Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Hujan dan Pelangi

"Lihat itu, hujan." katamu waktu itu. Seketika itu aku melihat apa yang kamu tunjuk, baru pertama kalinya aku melihat hujan dari kejauhan, dari tepi pantai tepatnya. Takjub. Begitu besar kuasaNya.
Aku termenung sesaat hingga kamu mengatakan " Emang baru pertama kalinya lihat?"
Sebenarnya aku ingin bilang tidak namun nyatanya baru pertama kalinya aku lihat. "Iya." kataku.
Hujan, kumpulan air yang jatuh dari kumpulan awan hitam yang terbawa angin. makna yang lebih dalam tentang hujan dan kerinduan atas kesuburan.
Hujan, adalah kenangan antara aku dan kamu yang membuatku berfikir panjang tentang sesuatu yang tak terduga.
Hujan, adalah rasa sedih yang berkepanjangan yang ingin aku akhiri saat ini.
dan Hujan kali ini tak membasahiku dan kamu. Kita hanya saling menatap hujan dari sini dan pulau diseberang sana yang hujan, sementara terik matahari masih bersinar begitu terang.
Hujan rintik yang terpantul sinar matahariakan menjadi pelangi.
Hujan

Pelangi, warna warni cahaya putih matahari yang bependar. Sebagai tanda badai telah berakhir dan akan ada kebahagiaan di depan sana.
Pelangi yang hadir kala itu sebagai tanda bahwa keceriaan warnawarninya akan membawa kita pada kebahagiaan.
Aku merasa sangat beruntung , pelangi.Melihat itu tandanya kita akan beruntung, batinku.
Hujan dan pelangi, aku dan kamu. Kita akan menjadi cerita bersama, meski perjalanan ini adalah perjalanan pribadiku, tapi kamu adalah bagian dari cerita itu.
Hujan dan Pelangi.


Pelangi


Rabu, 10 Februari 2016

Fotografi,Kelas Inspirasi

Fotografi, Dunia yang sangat awam bagiku. Meski senang potret sana sini, boleh dibilang gemar tapi istilah fotografi masih sangat asing. Masih banyak yang perlu aku pelajari. Memang awalnya sekedar hobi, sayang banget untuk tidak mengabadikan momen yang udah kita jalani apalagi itu penting. Kalau dari berbagai jenis fotografi yang aku tahu, aku termasuk jenis yang lebih suka landscape dan mikro. Ini mungkin terpengaruh dari hobi yang suka warawiri melihat keindahan bumi. *sedikit lebay*  Sangat sayang kalau keindahan alam Indonesia tidak diabadikan. Dari sana aku mula suka dunia fotografi.Sedikit demi sedikit mengenal bermacam-macam teknik dan jenis kamera hingga sampai sekarang masih terus belajarkarena dunia fotografi masih tetap menjadi ilmu yang perlu dipelajari lebih banyak dan masih banyak yang belum aku ketahui.
Kelas insprasi? Apa sih kelas inspirasi? Awalnya hanya iseng melihat posting kakak tingkat yang asik mengutakatik web kelas inspirasi kelasinsprasi.org jadilah ikut melihat info disitu. Intinya adalah kumpulan orang-orang positif yang menyumbang inspirasi tentang profesi masing-masing untuk anak sekolah dasar. Luar biasa sekali ide untuk menginspirasi anak-anak sekolah dasar dengan berbagai profesi. Biasanya anak-anak dijejali dengan cita-cita yang klesi menurutku, menjad dokter tanpa melihat begitu banyak profes, dan minat anak itu sendiri. Dengan pengenalan profesi yang beragam anak-anak akan berfikir ulang tentang apa yang diinginkan mereka kelak untuk meraih cita-citanya itu. 
Lalu bagaimana aku bisa terlibat dalam aktivta kela insprasi? mulailah mencari informasi lebih detail tentang hal itu, dan untk menjadi seorang inspirator harus mempunyai pekerjaan yang tetap selama minimal 2 tahun, dan aku? pada saat itu (tahun 2014) aku hanyalah mahasiswa yang baru lulus beberapa bulan sebelmnya dan masih menjadi karyawan swasta yang baru beberapa bulan bekerja. Untuk jadi inspirator itu adalah hal yang sulit, selain itu juga apa yang bisa aku ceritakan tentang pekerjaanku? sedangkan aku sendiri saat itu bisa dibilang tidak teralu suka dengan pekerjaanku. Tapi selain relawan inspirator dibuka juga relawan dokumentator (fotografer dan videografer). Dengan modal hobi jeprat jepret dan kamera jadilah nekat ikut mendaftar.
Saat pengumuman tiba, dan alhamdulillah lolos jadi relawan dokumentator kelas inpirasi Jakarta 3, dan rasanya nano-nano karena belum tau siapa yang akan menjadi teman sekelompok dan profesi mereka serta ini pertama kalinya ikut acara yang begitu besar. Ternyata benar saja, breafing kelas inspirasi sangat ramai ratusan orang berkumpul dnegan berbagai profesi, its feeling amazing~
Beruntungnya untuk pertama kali ikut panitia memberikan workshop singkat tentang fotografi dan human interest dari profesional fotografer yang merangkap jadi dosen seni fotografi.  Itu sangat membuka wawasanku tentang dunia foto. Menarik sekali. Dan mulai saat itulah human interest aku tambahkan di daftar jenis fotografi yang aku sukai, alasannya? simpel saja wajah anak-anak selalu punya cerita.
Sampai saat ini baru mengikuti 3 lokasi kelas inspirasi, Jakarta, Jogja, dan Sukabumi dan semunya memberikan cerita yang berbeda, dan banyak sekali pelajaran yang dapat aku ambil. Anak-anak selalu berwajah jujur dan mnggemaskan. Moment-moment lucu mereka menyenangkan, serta wajah penuh semangat dan kelelahan para insirator, kesributan kelas karena semangat anak-nak mendengarkan para inspirator mengajarkan tentang profesi mereka. Riuh gaduh menyeluruh dan membuat ingin kembali bersama dalam setiap kesempatan. 
Bertemu dengan dokumentator lainnya menambah banyak wawasan serta pertemanan, Banyak para profesional yang tertarik juga pada akhirnya, dengan begitu dapat menambah ilmu. Cerita para inspirator juga membuatku lebih tau tentang berbagai profesi yang selama ini mungkin aku pandang sebelah mata, tapi ketika passion ditambahkan disana menjadi luar biasa atau banyak profesi yang aru aku tau, hehehe.
Menjadi dokumentator kelas inspirasi membuatku banyak belajar tentang anak-anak, profesi yang begitu banyak, organisasi, serta tentunya fotografi. Yang tak pernah ketinggalan adalah kekeluargaan yang dihasilkan dari setiap kelompok :)
Ini sedikit hasil foto dari kelas insprasi yang pernah aku ikuti :
KI Sukabumi


KI Yogyakarta

KI Jakarta

Rabu, 11 November 2015

Mewarnai hitam dan putih

Mewarnai bisa dbilang hobi yang sudah lama dtnggalkan, Dikala senggang lebih memilih untuk meononton drama ato tidur. Terlalu monoton bagai hitam dan putih. Hingga suatu saat ada teman yang memerikan buku yang entah apa isinya dan ternyata adalah buku mewarnai. seletah itu waalaaaa jadilah addict kembali mewarna. Mungkin terlalu banyak hobi yang aku punya karena aku sendiri mudah bosan. Tapi mewarnai hitam dan putih ini tak membuatku bosan. Bergabung dengan komunitasnya juga menyenangkan. Menemukan hobi yang telah lama hilang, seperti menemukan duniaku kembali.
Mewarnai dengan spidol

dengan pensil warna

dengan crayon/pastel

Ketika buku datang dan langsung diwarnai

Selasa, 29 September 2015

Semarang, Aku, dan Dia

Stasiun Pasar Senen, Jakarta
Pagi yang indah untuk ibukota, jalanan masih lengang untuk perjalanan menuju stasiun PSenen. Ingin aku menikmati jalan seperti ini setiap hari tanpa peduli waktu,tapi itu tidak mungkin. Kota ini terlalu banyak orang hingga penuh sesak dan selalu saja macet jika bukan ini hari minggu. Dan masih terlalu pagi untuk melanglang di jalanan ibukota di hari libur yang lebih asyik digunakan untuk beristirahat lebih panjang. Semakin lama semakin baik managemen perkeretaapian Indonesia. Siapa yang gak kenal Citra Stasiun Pasar Senen yang penuh dengan jambret, copet dan segala macam kejahatan jalanan lainnya? Tapi kini sudah rapi, bersih, dan tentunya aman, perbaikan tak hanya di bagian toilet, tapi juga ruang tunggu, tata cara masuk, loket, dan tak ketinggalan tempat ibadah yang lebih besar. Masih dengan kereta ekonomi akan ku tempuh perjalanan Jakarta-Semarang, melewati jalanan pantura, yang konon kita akan melihat pemandangan yang menakjubkan karena rel yang dekat dengan laut. Setiap perjalanan ke Jogja dari Jakarta selalu melewati jalur tengah melewati Purwokerto, sedangkan kalau dari Bandung jelas menggunakan jalur selatan, dan ini perjalanan pertamaku.
Sendiri, kali ini perjalan singleku dimana yang lainnya berangkat besok. Aku memilih sendiri memang, mungkin sedikit menghindar untuk meredakan gossip antara aku dan mas Putra, atau lebih tepatnya menghindar. Lagi pula, Ibukota Jawa Tengah itu tak asing bagiku, karena ada sepupu di sana. Jantungku masih saja berdetak kencang tatkala memikirkannya. Dia siapa dia hingga membuatku seperti ini? Membuatku kacau. Terlebih sekian lama tak ada komunikasi kemarin membuatku terkejut dengan pesannya menanyakanku apakah ikut acara yang dia juga ikut di dalamnya. Aku berharap memang bertemu dengannya kemarin di acara itu, tapi takdir tak menuliskan begitu, ada dalam satu rungan besar yang sama tapi tanpa sapaan. Betapa bodohnya aku, tapi haruskah aku menanyakannya duluan? Atau harus diam? Sebenarnya apa yang aku rasa dan apa yang dia rasa?
Kereta yang membawa ku ke Semarang telah meninggalkan Stasiun Pasar Senen, aku berharap kebingunganku pun terjawab. Pertanyaan Eyang di Solo tentang perjodohan itu teriang kembali. Dan wajah anak perempuan itu pun kembali datang. Pecahan mozaik yang terlalu kacau untuk dirangkai dalam suratan yang tak  pernah dipahami manusia. Benang yang terlalu kusut.
Dering ringtone hp ku berbunyi menandakan ada pesan masuk. Apakabar? Kamu kemarin ikut acara di Balai Kartini kan? Kok ga ketemu?. Pesan darinya, dia. Pesan lain lagi masuk. Sudah sampe mana? Hati-hati di jalan. Besok kita nyusul. Pesan dari Mas Putra. Pilihan macam apa ini? Pertanyaan klasik yang sebenarnya tak perlu aku jawab. Beriak kecil, debar jantung yang tak karuan, dan mungkinkah ini pengharapan kepada manusia yang berlebihan? Siapa dirimu hingga berharap pada manusia lebih besar ketimbang penciptaNya? Pada akhirnya aku akan berdamai dengan diri sendiri. Pengharapan yang tak pasti. Pesan lain lagi datang. Nduk, sampai Semarang langsung ke pulang ya, kemarin temennya Bapak ke rumah, ada yang penting.Nanti balik lagi ke Semarang besok paginya.  Pada akhirnya mungkin takdir yang memenangkan pilihan itu. Pesan dari ibu ini pakem yang tak bisa ditolak. Dari bahasanya ini adalah sebuah perintah yang akan mengubah masa depan secara mendadak dan tak bisa ditolak.
Lepaskanlah, maka kamu akan menjadi tenang. Sebuah kalimat yang terbaca dari medsos yang menjadi jawaban. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk melepaskan semuanya. Melepasnya, Aku dan dia, hanya secuil takdir yang  indah. Pun dengan Mas Putra, aku akan melepas segala pengharapan dan angan yang dibuat rekan-rekan sejawat. Ini adalah waktunya untuk melepas semuanya. Ikhlas. Tuhan, ketika aku melepaskannya, ku tahu Engkau akan memberikan yang lebih baik sebagai ganti. Tapi semudah itukah kata melepaskan?
Benar saja pemandangan di luar jendela kereta ketika sudah akan masuk Semarang terlihat hamparan laut yang begitu dekat. Andai saja kalau bisa keluar maka kaki sudah basah dengan air asin. Jadi disinilah saat banjir rob kereta ke Semarang ataupun Surabaya tertahan. Laut lepas. Tak terlihat batas antara laut dan langit,sama-sama biru. Spektrum cahaya yang terlepas memantul satu sama lain dan akhirnya melebur. Sungguh sempurna ciptaanNya. Dan kembali lagi pikiran itu, melepaskan apa yang kita inginkan dan pada akhirnya sama melebur menjadi takdir yang indah. Bisakah keyakinan itu bersama hati yang masih gelisah? Binar mata berpendar dalam doa panjang dalam hati. Gerangan apa yang akan terjadi disana? Di masa depan?
Stasiun Semarang Tawang, Semarang Jawa Tengah
Stasiun klasik ini memberikan nuansa jaman dahulu. Memang kesan klasik di stasiun ini tak pernah lekang oleh waktu, selain dirawat dengan baik memang stasiun ini masih masuk kawasan kota lama Semarang. Banyak sekali bangunan-bangunan dengan gaya Eropa di kawasan ini. Sering pula di kawasan ini digunakan sebagai objek foto para pencari gambar termasuk aku. Yang teriang di ingatanku bagian pintu masuk stasiun dengan langit-langit yang tinggi khas gaya Eropa serta Jam gantung.
Benar saja tak berubah. Masih sama dengan kesan klasiknya. Jam hitam klasik yang selalu mengingatkanku bahwa eaktu terus berputar. Waktu untuk melepaskannya. Mungkin terhentilah waktu ingatanku dengan dia. Biarkan waktu yang akan menjawabnya. Dengan kuasaNya cerita-cerita indah akan berlanjut. Itu keyakinan saat ini. Semoga bisa istiqomah.
“Ning.” Sepupuku menjemputku untuk diantar sampai terminal untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja.
“ Mbak, maaf merepotkan lho.”
“Tenang aja, paklik tadi udah telepon kok, ga ngereopit, sayang aja gak main di sini dulu.” Seberapa penting kepulanganku? Sampai Bapak telepon Mbak Harum. Pikiranku melayang.
“Telepon? Trus bapak pesan apalagi mbak?” “Iya. Cuma buat jemput kamu dan memastikan kamu langsung ke Jogja, sepertinya penting”
“Mbak ikut aku ke Jogja sekaliyan?” “Ya ndak bisa kan nanti aku masuk malam. Salam buat paklik dan bulik aja ya. Oya salam juga buat Masmu.”
“Mas siapa? Mba ini ngawur aja.” “Lha kata Dony kemaren ada mas-mas yang ikut ke Solo?”
“Halah jangan dipercaya. Kan dia itu biang gossip. Biar rame katanya.” “ Owalah dasar.”
Obrolan ringan menemani perjalanan sampai terminal, dan pada akhirnya harus menempuh perjalanan Semarang-Jogja. Inilah cara melepaskan itu mungkin, iya mungkin ini cara Tuhan untuk membuatku melepasnya. Pesan-pesan yang masuk pada akhirnya tak terjawab dan menggantung begitu saja.


Waktu
Melepaskan bukan berarti menyerah
Tapi ini lah caraku untuk membuat kita jelas
Aku dan dia
Aku dan dia
Angan yang aku buat sendiri
Ketidakwarasan dan imajinasi
Takdir-takdir itu yang akhirnya menang
Bukan untuk mengikat satu sama lain
Hanya dengan cara halal akan menjadi halal
Lepaskanlah
Aku tak lagi berharap
Lepaskanlah
Aku tak lagi bermimpi
Karena dia bila dia jodohku
Akan datang di waktu yang tepat bersama cintanya
Keajaiban, Takdir, Mimpi
Mimpi yang semu itu lepaskanlah
Apakah takdir kan menyatukan kita atau mempermainkan kita
Lepaskanlah
Waktu akan menjawabnya


Rumah, Lembayung Senja
Belum sampai aku ambang pintu rumah, dan belum sempat salam kuucapkan Ibu dengan sumringah menyambutku. Bapak yang duduk santai di teras meletakkan korannya ketika melihatku. Aku pun mencium tangan beliau dan duduk di sampingnya.
“Buk, mbok ya dibikinin teh anakmu  ini, capek nduk?” Tak biasanya Bapak begitu basa basi. Biasanya Bapak langsung ke inti permasalahan. Tapi ini sepertinya beliau ingin bicara empat mata saja denganku. Putri semata wayangnya.
“Nduk, kamu ingat  Cahyo? Anaknya temen Bapak, Mas Jaya.” Deg. Jantungku seakan berhenti sejenak. Aku tau arah pembicaraan Bapak. Jika memang ini jawabannya. Aku ikhlas.
“ Yang mana pak? Kan waktu ke Palembang cuma ada Pakdhe sama Budhe aja.”
“Bapak juga gak tau sekarang kayak apa,kemarin Mas Jaya dan istrinya kesini, bermaksud memenuhi dan menagih janji kita dulu untuk menikahkan kaliyan berdua. Ya janji Bapak sama Mas Jaya dan sebaliknya. Kaliyan dulu deket tapi mungkin sudah lupa, karena mereka harus pindah ke Palembang.” Perjanjian macam apa yang dibuat Bapak dengan Pakdhe Jaya. Membuatku sedikit pusing. Apa aku harus menerima ini atau menolak? Mas Cahyo? Aku hanya ingat anak laki-laki yang difoto album itupun foto yang sudah blur tak jelas lagi disana. Aku hanya bisa terdiam.
“Bapak tau kamu ndak suka kan? Mungkin memang terlalu cepat, karena dulu juga perjanjiannya setelah kamu lulus kuliah kerja setaun baru ada obrolan tentang penikahan ini. Tapi rupanya nak Cahyo mau jadi dokter PTT ke pedalaman, jadi dipercepat supaya ada ikatan yang jelas, biar ga sama-sama kecantol orang lain.”
Seolah detik jam berjalan sangat lambat.
“Ini dia lagi terbang ke Jogja dari Jakarta. Oya kok kaliyan gak pernah ketemu ya di Jakarta? Udah sana istirahat dulu, siap-siap nanti kita makan malam bareng. Mereka Nanti kesini lagi.”
Aku hanya mampu terdiam, termangu. Kuyakinkan diriku ini lah jawaban. Boleh jadi apa yang kamu benci adalah jalan yang terbaik dariNya. Karena Dia yang Maha Mengetahui. Senja telah turun menjadi gelap malam yang bertabur bintang. Rasanya tak karuan.
“Kamu kenapa to nduk, kalau nanti kamu ndak suka ya bilang Bapak kamu ndak suka. Jangan mondar mandir kayak setrikaan begitu. Sudah sholat sana biar tenang.”
Benar mungkin bermunajat kepada pemilik jiwa adalah obat mujarab. Keluh kesah yang akan tersampaikan dengan tepat kepadaNya.
“Assalamualaikum.” Suara salam dari luar yang terdengar jelas olehku, adalah suara pakdhe Jaya. Terdengar Bapak menjawab salam dan mempersilakan masuk, dan sudah mengobrol.
“Ning.” Bapak memanggilku. Kutenangkan hatiku, meminta kekuatan padaNya. Aku keluar dan kebetulan macam apa ini. Bukan, ini bukan kebetulan ini adalah suratan takdirNya.
Tuhan lebih tau waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan hambaNya. Dan Rumah memang tujuan kita.




Minggu, 12 Juli 2015

Surakarta, Aku, dan Dia




Stasiun Balapan Solo, Surakarta
Solo, disini aku kembali datang, sekian lama setelah penat di ibukota, meski ini adalah perjalanan untuk keperluan kerja tapi tak apa. Meskipun Jogja-Solo begitu dekat, tapi aku tak bisa pulang sejenak ke rumah. Rasanya aku ingin mengambil kereta paling pagi hari ini untuk pulang sejenak ke rumah, lagi lagi harus kecewa karena orang yang di rumah ternyata di kota ini juga. Entah ada acara apa di rumah eyang hari ini, sampai ibu dan bapak harus menginap satu hari sebelumnya, mungkin kah kesehatan beliau kurang baik? Aku hanya berharap eyang selalu sehat dan bisa melihat semua cucunya menuju pelaminan. Ah klasik. Pelaminan? Topik ini pasti akan dibawa lagi dalam perbincangan keluarga, ini yang membuatku tak nyaman dan ingin di rumah saja. Dia, apakabar ya? Mungkinkah dia sudah menemukan tambatan hatinya, mungkinkah perempuan yang aku lihat di stasiun Bandung waktu itu? Mereka sangat mirip, kata orang dua orang yang mempunyai wajah yang mirip hanya ada dua pilihan mereka saudara atau mereka berjodoh. Aku berharap mereka bersaudara, mungkin itu hanya sebuah pengharapan untuk menenangkan diri.
“ Hai, ngelamun aja.” Suara dari depan yang mengagetkanku. Suara mas Putra, rekan kantor yang kali ini menjadi partnerku untuk perjalanan kali ini. Orang yang supel, luwes, baik dan kata orang di kantor terlalu baik kepadaku dibandingkan dengan yang lain. Hanya aku yang terlalu cuek tak melihat kebaikannya atau aku terlalu memikirkan dia, yang entah dimana. “ Baru jam 2 ni, kamu mau pulang ke tempat eyangmu atau ikut nginep ke hotel?”
“Disuruh pulang mas. Nanti dijemput, kayaknya sih udah di parkiran. Ehm, laper ga mas? Ikut  makan nasi liwet dulu yuk mas? Langganan Bapak dari dulu, kalo kesini pasti disempetin mampir kesana. Nanti dianterin deh sampe hotel.”
“ Wah kayaknya enak, boleh. Gakpapa nie?”
“Gakpapa lah, tenang aja, yang jemput sepupuku kok, dia juga suka nasi liwet, selama ditraktir pasti oke deh. Maklum masih mahasiswa.”
“ Mba Ning!” Panggilan yang tak asing di telingaku. Aku segera mencari sumber suara, dan ketemu, Doni cucu ragil ( terakhir) eyang tersenyum lebar menyambutku. Sudah besar ternyata, ya iyalah! Apa sih yang aku pikirkan, mahasiswa tingkat tiga jelas sudah terlihat dewasa.
“ Yo!” Aku mengaacak-acak rambutnya, tentu saja Doni sangat sebal dengan kebiasaanku ini, katanya terlihat sebagai anak kecil. Bagiku memang begitu, si bungsu dari sekian cucu eyang tetap paling kecil dan paling disayang oleh semua pakde budhe nya, dan tentunya sepupunya. Dulu posisi itu aku yang menempati, tapi dua tahun kemudian Doni lahir jadilah aku merasa semua perhatian hilang dan aku sedikit semena-mena terhadapnya. “Mampir dulu beli nasi liwet ya, oya kenalin ini mas Putra.”
“Putra.” “Doni, panggil aja iyud.” Mereka saling berkenalan kemudian Doni membisikan sesuatu “Calon ya mbak?” “Bukan!” entah kenapa aku merasa kesal dengan pertanyaan Doni tanpa sadar aku menjawab dengan sedikit berteriak, kulihat ekspresi mas Putra yang keheranan dan Doni yang puas menggodaku.
Mobilpun melenggang di jalananan kota Solo yang sepi, tidak seperti di ibukota yang 24 jam masih terasa hingar binger. Di kota ini, yang aku tau setelah pukul 9 malam jalanan sudah lengang. Kendaraan umum sudah tidak ditemui seusai magrib kecuali bus antar kota antar provinsi. Jadi untuk pergi malam pun harus menggunakan kendaraan pribadi. Seusai menikmati nasi liwet, aku duduk di jok belakang, kubiarkan mas Putra dan Doni di depan, selain agar mereka bebas bercerita akupun sudah mulai mengantuk. Mataku terpejam, tapi aku masih mendengar samar-samar mereka berdua masih mengobrol da nada juga namaku disebut-sebut dan kemudian mereka tertawa. Apa yang mereka obrolkan aku penasaran, tapi rasa kantuk tak mau pergi. Aku terbangun ketika sudah memasuki pelataran rumah eyang. “Kok ga dibangunin sih waktu udah nyampe hotel, kan gak enak gak pamitan sama mas Putra.” Protesku pada Doni. “Udah mbak, tapi mas Putra bilang gak udah dibangunin ya udah deh langsung setelah turun pulang nyampe sini. Mbak sih molor aja, sampe dikasih jaketnya mas Putra ga tau kan?” Kulihat sebuah jaket sudah menyelimutiku, dan aku segera bangun dan masuk ke dalam rumah, bapak dan ibu sudah menunggu ternyata. Kukira beliau sudah tidur, tapi ternyata masih menungguku. Setelah salaman dan melepas kangen bapak dan ibu pergi ke kamar dan aku terdiam di kursi ruang tv, dan tertidur. Denting jam dinding membangunkanku, pukul lima pagi. Eyang sudah berada di kursi goyang kesayangannya. Cepat-cepat aku bangun dan memberi salam, eyang hanya tersenyum menanyakan kabarku, berbincang dengan eyang membuatku lebih banyak tau tentang budaya jawa. Aku berjalan keluar rumah.
Apa kau lihat langit pagi ini? Terlalu putih dan dingin karena kabut, mungkin semesta tau hati ini dingin. Hangatnya mentari pagi tak menyapa, sinarnya tak memberi cahaya, layaknya kota mati, gelap. Tapi aku tau ini hanya sementara, sang surya akan segera datang, atau hujan akan segera turun? Mengingatkan aku dan dia, sementara dalam keadaan berkabut, tak jelas, tapi terang mungkin akan datang atau tangisan?
“Mba Ning, ke CFD yuk? Ajak mas Putra gih?” Doni tiba-tiba datang dari belakang mengagetkanku.“Males ah, masih capek, ih ngapain ngajak mas Putra segala kasian tau capek, besok kita tuh mau kerja” jawabku asal. Entah apa yang dibicarakan Doni dan Mas Putra semalam, sepertinya Doni sudah akrab.
“Ya biar tau kota ini, kerjanya juga masih besok, nanti juga masih bisa istirahat, banyak alasan banget sih mba, ayo lah.” Doni mulai merajuk, pasti ada apa-apa ini.
 “Kan mba harus bantu-bantu masak buat acara nanti sore, oya ada acara apa sih ntar? Tumben kok sore, gak malem aja?”
“Masak ga tau sih mba, kan hari jadi pernikahannya bapak sama ibu ke 25 tahun, ya sore karena biar pakdhe sama budhe pulang ke Jogjanya ga terlalu malem.”
“Ya gak ada yang bilang, gimana mba bisa tau, yah ga bawa kado nih.” “Makanya ayo ke CFD, udah ditungguin mas Putra disana.” “ Kok bisa?” Aku masih bertanya, tapi Doni sudah mengeluarkan dua sepeda. Huh! Ini namanya pemaksaan tapi perlu juga sih  batinku.
Kawasan Jalan Slamet Riyadi sudah ramai dengan orang yang membawa sepeda dan berjalan hilir mudik, tak ada kendaraan bermotor tentunya, berbeda dengan hari biasanya yang tak semacet Jakarta tapi selalu ramai kendaraan bermotor di kawasan ini. Kukayuh sepeda pelan, ini mengingatkanku pertama kalinya main ke CFD di Bandung bersamanya.  Aku dan dia menyusuri jalan Buah Batu sampai ke Dago, menyusuri jalanan Bandung pagi hari, tentu lelah tapi meneyenangkan. Jalanan yang tak selalu datar, ada kalanya menanjak, dan tak sesepi di jalan ini. Sempat aku berhenti sejenak karena terlalu bersemangat bersepeda tapi tak bertenaga lagi untuk mengayuh di jalanan yang menanjak. Dia menunggu di depan dan menyemangatiku, dengan susah payah akhirnya sampai di kawasan Dago. “Capek ya?” “Lumayan juga ternyata, untung bawa banyak air.” “Ini.” Dia memberikan saru bungkus bubur kacang, tapi karena aku tak terlalu suka aku menolaknya, hmm, betapa bodohnya aku, harusnya aku menerimanya, tapi aku tak bisa memaksakan perutku. “Sebenernya masih ada yang di Dago Atas, sampai daerah bukit bintang, tapi lain kali saja kita kesana, keliatannya kamu udah kecapekan banget.” “ Hehehe. Iya sih mas,pulangnya kita lewat jalan yang sama?” “Gak dong, kita lewat gedung sate, terus mampir ke rumah buku ya? Seringnya sih aku gitu.” “ Owh mas sering sepedaan juga ya? Pantes tadi akrab sama club sepeda tadi.”
“Mba Ning, itu mas Putra.” Doni membangunkanku dari lamunanku. “Owh.” Mas Putra berjalan menghampiri aku dan Doni. Aku tersenyum, tapi aku juga getir, bayangannya selalu ada tapi seseorang yang pasti ada didepanku. Aku tak bisa membohongi kalau aku masih mengharapkan untuk bertemu dengan dia. Apa kabar dia?
Senja, Rumah Eyang
“Nduk sini.” Panggilan eyang yang lembut membuatku sedikit kurang enak, aku lalu duduk di samping beliau. “Ada apa eyang?” “ Kamu ingat Pakdhe Budhe Jaya? Yang dulu rumahnya di sebelah eyang, yang sekarang di Palembang.” “Iya ingat eyang, beberapa bulan lalu sempat mampir ke rumahnya yangdi Palembang, ada apa Yang?” “Itu putrinya, Masnya katanya di Jakarta juga, udah jadi dokter tapi gak bisa datang.”  Aku tau arah pembicaraan eyang setelah ini, pasti akan ada perkenalan dan mungkin perjodohan. Tuhan aku mungkin bukan orang yang pemilih, tapi tidakkah aku bisa memilih siapa yang menjadi imamku? Aku melihat anak perempuan yang ditunjukan eyang, kira-kira sepantaran dengan Doni, setelah kuperhatikan dengan seksama, anak perempuan itu orang yang kulihat bersama dia saat itu di stasiun Bandung. Kebetulan macam apa ini? Sulit dipercaya, haruskah aku bersikap tak biasa? Aku percaya tak ada kebetulan, karena sudah ada yang mengatur,  tapi harus kusebut apa ini? Memang aku tak ingat wajah anak-anak Pakdhe dan Budhe dan waktu mampir kesana pun tak sempat melihat foto-foto dirumahnya, hanya membawakan pesanan ibu kemudian pulang. Ah andai saja aku tau.

__________________________________________________________________________________
yatta!! kembali lagi ke blog yang sekian lama terbengkalai.
Dengan cerita baru. mau aktif sekarang, inshaallah. udah banyak draf pikiran yang seharusnya ditulis.
Semoga aja ga keteteran dan bener-bener teralisasi.
Amiiiiin...
cerita sebelumnya part 1 part 2 part 3
 

Jakarta, Aku dan Dia

Jakarta,
Kota ini begitu sumpek dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Entah kenapa aku belum bisa cocok dengan kota ini, padahal suka atau tidak aku harus tinggal disini setidaknya satu tahun kedepan. Ibukota Indonesia ini belum bisa menjadi magnet untukku tinggal lebih lama kalau bukan untuk mencari sesuap nasi. Kalo dibandingkan dengan kampung halamanku jelas Jogja lebih kuno dengan kota ini, tapi namanya juga tanah kelahiran tetap saja nyaman. Setelah selesai berkutat dengan tugas akhir dan akhirnya bisa mengenakan jubah kebesaran bernama toga, kota ini adalah tempat untuk mencari sesuap nasi. Segala macam ada di sini, apapun ada di sini, tapi tetap hati tak bisa dibohongi, sepi rasanya diantara hingar bingar ibukota. Sepi dalam keramaian.
Stasiun Gambir,
Stasiun di tengah ibukota, di pusat ibukota, stasiun yang melayani perjalanan kereta bisnis dan eksekutif  ke berbagai kota di pulau Jawa. Disinilah aku berada. Stasiun yang tak pernah sepi dengan penumpang yang akan ke ibukota maupun yang akan meninggalkan ibukota. Selain berbagai fasilitas yang lengkap ini disini, juga ditambahkan adanya shelter perjalanan bis yang bisa dilanjutkan ke bandara Soekarno-Hatta maupun ke pulau seberang yaitu pulau Sumatra tepatnya Lampung. Akses ke stasiun ini pun sudah sangat gampang baik menggunakan transportasi pribadi maupun umum. Tapi saying sekali sekarang KRL tidak berhenti di stasiun ini, padahal dulu ketika KRL masih berhenti di stasiun ini memudahkan wisatawan untuk pergi ke monas, karena letak stasiun yang sangat dekat dengan Monas. Mungkin ini kenapa aku merasa sedikit ganjil dan sedikit sepi dengan tidak adanya penumpang KRL yang naik dan turun. Maka jadinlah sekarang yang akan turun di Gambir pindah ke stasiun Juanda atau stasiun Gondangdia.
Perjalanan kali ini tak mungkin aku bertemu dengannya, bisa saja aku bertemu dengannya tapi itu sangat kecil kemungkinannya. Aku dan dia sekarang memang sudah pindah ke ibukota setelah dia menyelesaian masa koas dan sekarang benar – benar menjadi dokter di salah satu rumah sakit di kota ini. Tapi tak mengapa, setidaknya aku tak sendirian untuk pulang ke kota kembang, salah satu teman sekantor yang satu alumni ikut pulang karena ada suatu hal yang harus kita urus. Dan beruntungnya kita mendapatkan tiket promo dengan diskon hamper 50%. Inilah kemudahan dan keasyikan dalam dunia serba digital, dimana tiket kereta sekarang sudah dapat dibeli secara online dimanapun dan kapanpun serta banyak diskon juga yang ditawarkan. Ya inilah perjalan pertamaku ke kota kembang dengan kereta. Kereta eksekutif yang menawarkan perjalanan Jakarta-Bandung tidak lebih dari tiga jam.
Bandung, aku masih saja belum bisa menghilangkan kecintaanku terhadap kota itu, disanalah tempat banyak pelajaran aku terima secara langsung maupun tidak. Pelajaran kehidupan dan mungkin juga cinta. Jatuh cinta? Sesuatu yang wajar bukan untuk seorang yang masih mencari apa yang ingin dia cari. Mungkin itu juga yang aku rasakan dengan kota itu, jatuh cinta dengan segala macam yang ada disana beserta isinya dan tentu dengan segala kekurangannya. Ataukah aku juga jatuh cinta dengannya? Dia yang aku temui di kota itu? Mungkin saja, tapi aku juga tak tau. Terlalu singkat untuk meyimpulkan hal yang tak bisa dikalkulasikan dengan rumus matematika. Dia terlalu banyak yang dia punya hingga rasa kagum itu muncul, ya mungkin saja itu hanya suatu kekaguman yang ku rasa.
Panggilan untuk kereta yang akan membawaku ke Bandung sudah terdengar. Hampir saja tadi terlambat untuk menukarkan tiket kereta, karena diwajibkan datang maksimal satu jam sebelum keberangkatan kereta untuk menukarkan tiket online dengan tiket sebenarnya. Tapi untungnya sekarang disediakan tempat untuk cetak tiket mandiri. Dengan kode booking yang kita punya bisa cetak mandiri tiket kita, sangat mudah. Ah, ini kemajuan dari perkeretaapian Indonesia. Aku berjalan menuju peron tempat kereta sudah menungguku. Karena tiket promo aku dan temanku mendapatkan tempat duduk yang terpisah, tapi penumpang yang duduk di sampingku bersedia untuk bertukaran dengan temanku. Masih banyak orang baik di sini. Perjalanan dimulai. Ini juga perjalanan pertama temanku naik kereta, tapi berbeda ini benar-benar perjalan pertamanya, bukan sepertiku yang sudah bolak-balik naik kereta. Temanku terlihat sangat antusias dengan perjalannya kali ini dan kita bercerita kesana kemari.  Akhirnya setelah Cikampek kita merasa lelah dan temanku tertidur sedang aku masih terjaga.
Ah Bandung, akhirnya aku kesana lagi, walaupun kali ini hanya perjalan singkat menghabiskan akhir pekan dari penatnya ibukota. Ingatanku terbawa pada kejadian waktu itu. Tak sengaja aku bertemu dengannya.
Bandung, beberapa waktu silam
Aku terjebak disini, konser salah satu band terkenal seantero Indonesia, siapa yang gak kenal Sheila on seven? Mungkin hanya anak kecil atau orang tua saja. Kalau saja tak kekurangan orang aku tak mungkin ada disini untuk liputan acara dies natalies salah satu UKM yang mengundang band ini. Memang aku sdikit tak suka dengan liputan yang berhubungan dengan konser, hiburan yang hingar binger aku lebih suka meliput acara sosial atau sejenisnya. “Makasih lho mbak, udah nemenin buat liputan.” kata Michel  si ketua redaksi yang akhirnya turun langsung. “ Kalau bukan kosong  juga gak mau kali” “Makasih pokoknya” katanya sambil menyunggingkan senyum lebar. Sebagian anggota sedang sakit da nada juga yang lagi sibuk sepertiku menyelesaikan tugas akhir, tapi aku sedikit beruntung karena tinggal sedikit revisi sana sini. Akhirnya aku kalah juga kubalas dengan senyuman yang terpaksa.
“ Hai” ada yang menepuk bahuku dari samping, karena focus bicara dengan Michel. Betapa kagetnya karena yang menepuk bahuku adalah dia. Untuk apa dia kesini pikirku sekilas, ya tentu saja buat nonton konser lah jawabku selanjutnya. “ Wah lupa ya?” lanjutnya. Ya mana mungkin lupa to mas pikirku. “ Wah benar lupa nie? Masih mikir gitu?” lanjutnya lagi. “Eh, enggak kok mas. Inget kok inget, cuma heran aja kok bisa disini? Buat nonton konser ya? Eh ya jelas lah ya.” Kataku sedikit tak karuan. Entah mengapa jadi tak konsen. “ Hahahaha. Engga juga, mau nyari kamu. Mau nagih bukunya.” Katanya dengan ringan. “Eh?” kataku bingung. “ Engga dibawa bukunya.” Lanjutku. “ Hahahaha. Engga Cuma bercanda.  Tadi diajakin temen kesini, awalnya sih ga tertarik cuma pas denger yang ngadain kampusmu jadi pengen ikut sapa tau ketemu ma kamu, jadi bisa nagih bukunya sekaliyan, eh ketemu beneran.” Katanya dengan tawa yang ringan. Tuhan inikah yang dinamakan kebetulan yang meneynangkan atau buah dari kita saling membantu di saat kesulitan? Aku tak tau apa namanya, tapi terimakasih untuk ini. Tapi kebahagiaan ini cuma sementara, Michel menyikutku memberikan kode untuk segera melakukan wawancara dengan si ketua penyelenggara acara dan ketua UKM. Setelah pamit, akhirnya aku haarus melangkah untuk pergi, tapi sempat tadi kita janji untuk ketemu lagi seusai aku wawancara.
Akhirnya tugas hari ini selesai, rasanya ingin cepat-cepat melangkahkan kaki ke tempat yang sudah dijanjikan tadi. “ Buru-buru amat sih mbak, mau ketemu mas-mas tadi ya? Siapa dia mbak? Bukan mahasiswa sini ya? Cakep juga.” Banyak banget pertanyaan yang dilemparkan si Michel ini, maklum sudah makanan sehari-harinya dengan pertanyaan untuk menggali banyak informasi. “Ntar deh aku critain, aku duluan ya, sana itu udah ditunggu si pacar tuh.” Elakku sambil mengejeknya. Dia hanya tersenyum malu-malu. “ Kok sendirian, mana temennya mas?” sapaku padanya yang sendirian di sebuah bangku di luar panggung. Ya kita janji bertemu di luar panggung, karena dia suka dengan So7 tapi berdesak-desakan dengan banyak orang dia kurang suka, sedangkan aku memang tak suka dengan hingar binger konser, jadilah aku dan dia disini. “udah selesai? Iya, temenku masih di dalam, masih belum puncak acara. Aku males ah disana, sumpek.” “Iya udah selesai. Hmm.Gitu ya?” Ah aku tak tau kenapa aku jadi mati gaya,hanya itu kata yang bisa aku ucapkan? Rasanya aku mengutuk diriku sendiri. ” Jadi mana bukunya? Eh iya ga dibawa ya?” “Iya, kan mas gak bilang mau kesini?” Eh gimana dia bisa ngasih tau mau kesini atau engga kan baru ketemu waktu itu dan gak saling bertukar nomor atau akun sosmed. “Hahahaha. Gimana bisa ngasih tau kan aku gak tau nomermu?” Nah kan bener kan apa yang aku pikirkan. Jadilah kita bertukar nomor. Band yang ditunggu sudah naik panggung. “Gak mau kedalam?” tanyaku padanya. “Gak ah disini aja, didengerin dari sini aja gakpapa.” “Gak dicari temennya?” “Ah paling mereka juga lupa.” Jawabnya singkat, dan dia mulai bertanya tentang keseruan di buku lanjutan yang akan dia pinjam dan kita larut dalam cerita tentang kisah yang ada di buku tersebut. Tanpa sengaja aku melihat jam tangan dan ternyata sudah hamper tengah malam, parahnya aku lupa kalau aku masih memparkirkan motorku di depan student center. “ Wah sudah malam ya. Kayaknya acaranya masih lumayan lama. Kamu dijemput?” tanyanya, seolah tau kekhawatiranku setelah melihat jam angan tadi. “Dijemput? Sama siapa?” “Ya sama pacar kamu mungkin?” tanyanya sedikit mengambang. “Hahahaha. Pacar yng mana mas? Bawa motor sendiri kok tadi tapi masih di depan student center. Duh, mana harus lewat lorong gelap lagi.” Ah! Kenapa aku bilang begitu ya, biasa nya juga jalan kesana sendiri, tapi tanpa sadar seperti itu yang kata yang terucap. “Yuk aku temenin ke sana ambil motormu, ntar lewat sini lagi kan? Jadi ntar aku diantar kesini lagi” katanya sambil berdiri. “Eh, iya lewat sini juga bisa, tapi gak usah mas, biasanya juga sendiri kesana. Ntar kamu dicari lagi?” “Sama siapa?” “Pacarmu mungkin.” Jawabku asal, hanya untuk membalas jawaban yang tadi. Dia hanya tersenyum, dan bersiap jalan. “Ayo.” Dia mengulurkan tanganya untuk membantuku berdiri.
Dug. Prang. Terdengar suara lemparan batu ke jendela kereta tepat di samping temanku.  Temanku terbangun dan ada raut ketakutan di wajahnya. “ Lo gakpapa?” “Enggak papa sih, kayak gini sering ya?” “Enggak juga kok.” Karena merasa bertanggung jawab petugas kereta yang duduk di kursi sebelah menawarkan kepada kami untuk bertukar tempat duduk, sedangkan mereka memanggil petugas keamanan. Sejenak hening da nada suasana yang kurang menyenangkan. Petugas keamanan dan kebersihan datang kemudian mengecek kondisi kaca yang retak, untungnya tak sampai pecah. “Wah perjalanan pertama jadi kurang menyenangkan.” Gumam temanku. “Tapi jangan kapok kapok naik kereta ya, pada dasarnya enak kok naik kereta.” “ Asal ada yang nemenin lagi aja naik keretanya. Kalau gak serem ntar begini lagi.” Sedikit demi sedikit suasana kembali normal.
Pada akhirnya temenku gak jadi tidur lagi karena sedikit khawatir dan kita malah bercerita kesana kemari.  Tapa sadar aku tersenyum mengingat kejadian itu, entah apa yang membuatku senang. “Eh ngapain lo senyum-senyum sendiri?” Suara dari sebelah mengagetkanku, ternyata temanku sudah bangun. “Lo ngebayangin yang jorok-jorok kan? Ato lo pasti abis jailin gue kan?” tanyanya penasaran. “Apaan sih. Kagak ngapa-ngapain gue. Ada deh, mau tau aja.” Temenku masih penasaran kenapa tadi aku senyum-senyum. Sedikit perubahan yang aku rasakan pada diriku sendiri adalah ketika seseorang yang sudah biasa menggunakan gue-lu maka aku akan memakai seperti itu, walau kadang masih kaku, tapi di ibukota sudah biasa, bukan tak sopan, tapi memang sudah budaya. Tapi untuk menggunakan itu di kampung halaman tentu aku harus berfikir dua kali, karena banyak hal yang membuatku tak bisa untuk melakukan itu. “Ah yasudah.” Akhirnya temenku menyerah tidak menanyakan lagi. Itu juga karena kita ditakjubkan dengan pemandangan diluar yaitu rel kereta diatas yang bisa melihat jalan tol Bandung-Jakarta dan pemandangan yang menakjubkan sunset di kereta. “Eh lo ntar dijemput siapa? Gue dijemput terus langsung ke tempat sodara di Antapani. Mau bareng gak?” “Ogah, lo kan dijemput ma pacar lo, trus gue mau ditaruh mana? Taulah, cuma basa basi doing kan?” Temenku cuma senyam-senyum dengan jawaban yang aku lontarkan. “Hahahahha. Tau aja sih? Paling lo minta jemput adek kelas lo itu kan? Siapa Michel? Makanya cari pacar sono? Knapa sih lo gak mau pacaran? Lo ga jelek-jelek amat, ga secantik gue sih tapi lo pinter kok, iye pinteran lo ketimbang gue.” Mataku melotot kearah temenku yang masih senyum-senyum puas mengejekku. De javu, pertanyaan yang sama yang pernah dia lontarkan.
Akhirnya aku berjalan sedikit belakang darinya menuju tempat parkir student center. Dan tiba-tiba dia bertanya “Kok pacarmu gak nganterin?” Aku hanya diam ketika pertanyaan itu dia lontarkan. “Lagi marahan ya?” tanyanya lagi. “Gak punya pacar akunya mas. Jadi gak ada yang nganterin. Aku juga gak mau pacaran.” “Kenapa gak mau pacaran? Gak boleh ma ortu? Kan kamu udah gede.” “Hmm. Kenapa ya? Mas sendiri kenapa pacaran?” Aku dan dia hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tak tahu juga sebenarnya dia sudah punya kekasih atau belum, tau mungkin sudah punya tunangan atau bahkan istri? Aku tak berani untuk bertanya lebih jauh, karena dia pun hanya diam tak menjawab. Tak tau kenapa ada rasa sedih di sudut hati untuk membayangkan dia sudah punya tambatan hati.
“ Kok lo malah ngelamun sih? Jadi kenapa lo gak mau pacaran?” “ Gak tau juga sih. Dulunya sih pengen, tapi setelah  baca banyak buku, dan baca Al Qur’an tentunya serta pengikuti kajian etika bergaul dengan dalam islam ya gitu. Pacaran itu bukan ajang buat kita mengenal seseorang, ya kalo mengenal lebih jauh bisa lewat taaruf dan kemundian menikah. Banyak maksiatnya dalam pacaran. Itu menurut pandanganku lho ya. Kayak ini aturan Tuhan buatku berlaku juga untuk semua muslim. Tapi kan gak bisa maksain juga. Aku sih gak masalah kalau temen-temenku mau pacaran, ya itu gak bisa maksain kalau kita sudah berusaha buat ngasih tau.” “Owh gitu.  Pantes kemaren si Cungkring patah hati.” “ Apaan sih. Udah lah. Gitu pokonya.” Aku berusaha buat mengalihkan pembicaraan. Pacaran ya? Banyak pendapat tentang hal ini. Tapi saling menghargai pendapat satu sama lain adalah sebuah keharmonisan yang harus dijaga.
Perjalanan ini membawaku pada harapan baru di tempat lama. Tak terasa sudah akan memasuki kota Bandung. Sudah terlihat jalan tol Cipularang dari atas kereta. Kalau dengan kendaraan pribadi atau bus aku bisa melihat rel kereta yang membentang jauh disana saat di tol kini aku sebaliknya. Pemandangan yang menakjubkan. Senja di kereta. Perjananan ini memang bukan untuk mencarinya, tapi mungkin perjalanan ini untuk mencari siapa kita sebenarnya. Dia tak di kota ini, dia ada di sana, di gemerlap ibukota, Jakarta.
Stasiun Hall Bandung
Akhirnya sampai juga di kota kembang. Rasanya sudah tak sabar untuk jalan-jalan menghilangkan rasa penat. Sudah banyak tempat yang ada dalam list liburan yang sudah menanti. “Beneran gak mau bareng? Udah malam lho.” “Udah sono pulang, gue mau ditaruh mana? Kalau bawa mobil sih iya mau nebeng.” Tawa pecah di antara kita dan temanku berpamitan dan bersiap melangkah menghampiri pacarnya. Tinggallah aku sendiri menanti jemputan. Saat sibuk mengedarkan pandangan mencari Michel entah aku berhalusinasi atau gak aku melihat dia. Sedikit bergedup kencang jantungku, entah kenapa. Kakiku seolah ingin cepat menghampiri nya dan menanyakan kabarnya tapi terhenti seketika saat aku melihat seseorang perempuan tinggi semampai menghampirinya dari belakang. Mungkin hanya halusinasi itu pikirku. Aku melenggang menghampiri Michel yang sudah kutemukan. Rasanya seperti mendapatkan hadiah yang besar ada rasa senang yang luar biasa tapi ketika dibuka hadiah itu kosong ada sedikit kekecewaan. “Eh mbak udah disini aja, tadi mau kesana lho.” “Hehehe. Yuk pulang.” Ada banyak kemungkinan mungkin saja tadi memang dia atau bisa jadi bukan. Tapi sudahlah, aku tak ingin ini mengganggu liburanku yang hanya sebentar. Kalaupun dia mungkin inilah jawaban. Aku tak bisa berharap apapun lagi tentangnya.  Yang terjadi aku dan dia hanya sebuah kebetulan yang indah. Jika disini adalah tempat kita bertemu mungkin ini adalah tempat kita berpisah lalu saling mengenang. Kalau kita berjodoh rumah adalah tujuan kita. Aku teringang kata-katanya waktu itu.

Jumat, 27 Juni 2014

Bandung, aku dan dia

Stasiun Purwosari, Solo
Ini waktunya aku kembali untuk menyelesaikannya, skripsi yang harus diselesaikan untuk mendapatkan gelar sarjanaku. Kembali ke kota itu, kota yang mengajarkanku banyak hal, Bandung. Juga setelah di rumah dan dijejali begitu banyak nasehat juga nasehat dari saudara di  Solo serta banyak pertanyaan ‘Kapan wisuda?’ ‘Kapan nyusul sepupumu menikah?’ Jadilah aku putuskan untuk pulang ke Bandung dari Solo, rasanya Jogja masih rindu rumah, tapi ini harus segera diselesaikan. Semburat senja di Solo menemaniku menunggu kereta yang akan datang membawaku kembali. Ah lama sekali aku tak megunjungi Solo, kalau bukan karena ada acara nikahan saudara mungkin aku tak kesini. Stasiun ini juga banyak berubah, secara interior saja mungkin, bahkan aku sudah sedikit lupa seperti apa dulu, tapi yang aku ingat bangunan ini masih sama. Sepertinya jauh lebih baik dari dulu, seringnya turun di stasiun Balapan, atau di stasiun Solojebres, tapi kini ada perubahan jadwal yang memindahkan hampir semua perjalan kereta ekonomi dari Solojebres ke Purwosari.
Dengan alasan stasiun Purwosari dirasa lebih strategis dibandingkan stasiun Solojebres maka hampir seluruh kereta ekonomi dipindahkan ke stasiun ini. Secara transportasi stasiun Purwosari memang strategis seperti stasiun Balapan yang ketika kita keluar dari stasiun kita bisa naik bis kota, tapi untuk menjangkau rumah saudaraku jadi agak jauh. Kota kecil ini menurutku juga banyak berubah, lebih rapi dan lebih berkembang dengan banyaknya pusat perbelanjaan dan juga tata taman kota serta pengembalian beberapa tempat umum serta monument. Pasar – pasar tradisional di Solo juga lebih rapi dan bersih walaupun hanya sempat mampir ke Pasar Gedhe tapi menurut pedagang disana pasar yang lain juga lebih baik. yang sudah menunggu di peron yang sudah ditentukan sudah mulai naik satu per satu. Senja
Kereta yang aku tunggu sudah datang, para penumpang jingga lambat laun menjadi gelap, tak lama kereta menuju stasiun berikutnya, dengan tujuan akhir Bandung. Aku mencari tempat dudukku, sayang ekali kali ini aku tak mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, mungkin karena aku membeli tiket dekat dengan hari keberangkatan, jadi sudah hampir penuh, dan tak hanya itu aku juga mendapatkan tempat duduk dekat dengan pintu kereta. Mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan pintu kereta itu sedikit menyika karena banyak yang berlalulalang membuka pintu, ditambah lagi suara berisik karena dekat itu berarti dekat dengan sambungan antar gerbong dan satu lagi tidak enaknya adalah dekat dengan WC yang akan berbau tak sedap ketika kereta sudah melakukan setengah perjalan. Kereta sudah mulai jalan kembali, hanya beberapa menit saja berhenti di stasiun ini, baru saja aku menempati tempat dudukku. Ah, ternyata kursi sebelah kosong pikirku, lumayan juga bisa tidur sampai Lempuyangan. Tak bisa berharap untuk kosong sampai stasiun tujuan karena kalau saja kosong pasti aku mendapatkan tempat duduk itu. Orang yang duduk di depanku kali ini lebih tenang di banding waktu akupulang kemaren, kami hanya saling melempar senyum dan tidak ada cerita, mungkin karena aku lelah juga jadi malas untuk bertanya.
Rasanya ingin memejamkan mata, tapi sepertinya takbisa untuk melakukan itu, akhirnya aku keluarkan buku bacaan yang kadang aku bawa untuk mengusir bosan. Lempuyangan, akhirnya sampai di  Jogjakarta. Ah, rasanya aku ingin turun dan pulang ke rumah, tapi sudah aku bulatkan tekat untuk menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Itu tekatku! Penumpang yang naik dari stasiun ini cukup banyak, salah satunya adalah penumpang yang akan nempati kursi sebelahku. Aku hanya berharap yang akan menempatinya adalah penumpang wanita, agar lebih nyaman duduk bersama. Agak malas kalau harus duduk dengan seorang pria yang tak dikenal, rasanya tidak nyaman saja, banyak hal yang membuat tidak nyaman, salah satunya adalah banyak berita tentang pelecehan di kereta, pria-pria berfikiran picik dan jorok menurutku. Tapi jika itu seorang bapak-bapak tua biasanya aku bisa bercerita dengannya, mungkin karena merasa seperti bapak, dan biasanya baik juga.
“Permisi” suara seorang pria mengagetkanku. “Oh, ya” jawabku singkat, tak melihat wajahnya dan langsung memberikan jalan untuk menempati tempat duduknya di sebelahku, dan seketika aku merasa kecewa karena yang duduk di sebelahku adalah seorang pria yang masih muda dan entah kenapa seperti tidak asing. Ku beranikan diri untuk melihat kesamping dan saat itu juga dia juga menengok ke arahku setelah selesai menaruh tasnya di atas, aku yang salah tingkah hanya melempar senyum, dan begitupun dia. Setelah ku perhatikan seksama, aku terkejut, dia, dia yang satu gerbong denganku waktu itu, dia yang membawa bantal leher line. Dia yang menolongku saat hampir terjatuh dari kereta. Dia
Aku memalingkan wajahku ke arah depan, melihat ke pintu kereta yang tengah terbuka. Oh benar saja dia orangnya, dia mengeluarkan benda yang sama saat itu. Dia yang entah siapa terasa dekat, tapi aku tak mengenalnya. Apa ini yang dinamakan kebetulan? Kebetulan yang mempertemukan aku dan dia kembali. Atau ini yang namanya takdir? Ah aku terlalu banyak berfikir, terlalu berkhanyal tentang hal-hal yang tidak-tidak. Tapi rasa penasaranku masih berputar-putar dipikiranku, siapa dia, mengapa aku merasa pernah mengenalnya sebelumnya. Akhirnya aku putuskan untuk mengalihkan pikiranku untuk membaca buku yang sudah aku diamkan dari tadi.
“Buku yang bagus ya.” Baru beberapa halaman aku membaca buku suara di sebelah mengagetkanku membuatku menoleh ke samping. “ Aku sudah menyelesaikan buku itu. Buku yang ketiga sudah keluar,tapi sayang belum sempat membelinya.” tambahnya lagi. Aku sepertinya tak salah dengar, ya dia mengajakku bicara dengan memberikan komentar pada buku yang aku baca. “ Ya benar, buku yang bagus, filmnya pun bagus, tapi aku lebih suka membaca bukunya, oya buku ketiga ya, sudah punya sih, tapi belum sempat membacanya, buku ini saja belum selesai dibaca.” Aku menyindir diriku sendiri. Bagaimana sempat aku membaca buku ini, kalau tugas akhirku saja masih meronta untuk diselesaikan. “Benarkah? Boleh aku meminjamnya? Tak punya waktu juga sepertinya aku untuk membelinya, dan sepertinya bisa lebih hemat.”  Katanya antusias ingin sekali sepertinya dia membaca buku lanjutan yang belum sempat ia baca, buku yang memang memberikan semangat lewat cerita-cerita pribadi penulis, dalam seri ‘Lima Menara’.  “Boleh, silakan saja mampir ke kampus putih biru.” Jawabku begitu saja, apa yang aku pikirkan? Bahkan aku belum tahu siapa namanya tapi sudah menawarkan untuk main ke kampusku.
Setelah itu banyak hal yang aku dan dia obrolkan, ternyata benar saja aku pernah melihatnya di salah satu kegiatan sosial yang diadakan oleh kampus. Dia adalah salah satu mahasiswa di universitas negeri di Jogja yang sedang menjalankan masa profesi dokter muda di Bandung yang tinggal beberapa bulan lagi. Aku dan dia ikut serta dalam kegiatan bakti sosial pengobatan gratis yang diadakan di daerah Baleendah yang sering terkena banjir, jika aku kesana hanya mewakili organisasiku sebagai Pers, dia diundang sebagai dokter karena Rumah Sakit ia bekerja menugaskan dokter-dokter muda untuk ikut berpartisipasi,tentunya dengan kerja sama dengan kampus. Begitu kebetulan ternyata, atau sebuah keberuntungan. Rasa kantuk mulai menghampiriku, dan tak ingat lagi apa yang kami bicarakan setelahnya, aku mulai tertidur dan ketika bangun ku dapati dia masih tertidur lelap dengan bantal lehernya. Aku tersenyum sendiri, entah apa yang membuatku tersenyum, mungkin masih teringat percakapan semalam mengenai kejadian-kejadian lucu di kereta yang hampir sama aku alami, dan agak heran juga ketika seorang calon dokter yang notabene pasti bukan dari orang-orang yang biasa memilih untuk naik kereta ekonomi dibandingkan naik kereta bisnis atau malah eksekutif yang mudah saja ia dapatkan, “Kenapa harus boros jika kita bisa berhemat? Disini bisa menemukan banyak hal lucu, dan lebih tidak merasa sendiri walaupun jarang ngobrol dengan mereka.” Begitu katanya. Benar, aku juga memilih kereta ekonomi jika memang tidak terdesak oleh waktu dan tidak membawa barang banyak, ada banyak yang bisa menjadi sebuah pelajaran disini.
Sebentar lagi kereta akan berhenti di Stasiun terakhir, stasiun tujuanku dan dia. Kiara Condong, Bandung. Pagi ini pun aku dan diatak banyak bercerita kembali, mungkin sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku harus melangkahkan kakiku dengan mantap untuk menyelesaikan tugasku. Mungkin jika ada kesempatan lagi aku akan bertemu dengan dia kembali. Walaupun hanya sepanjang perjalan di kereta aku banyak memperoleh pelajaran darinya. Keretaakan segera berhenti, dan kami akan segera menuju tujuan masing- masing. Entah kenapa ada rasa ingin memperpanjang perjalananku dan dia, tapi tak mungkin. Kereta tiba sedikit terlambat, hanya sedikit saja, ku langkahkan kakiku menuju  pintu kereta yang sudah banyak penumpang mengantri turun. Dia tepat di belakangku. Akhirnya sampai di tujuan. Bukan berarti ini tujuan akhirku, tapi ini adalah awal untuk mengakhiri kegiatanku di sini. Udara pagi yang masih segar bisa dirasakan begitu kaki melangkah keluar kereta.

“Sampai jumpa mas, semoga bisa ketemu kembali lain kali.” Kusampaikan salam perpisahan untuknya ketika aku dan dia berjalan menuju pintu keluar stasiun. “ Oh ya, pasti kita akan bertemu kembali, nanti kalau aku kosong aku akan mampir ke kampusmu mengambil buku. Oke?” Jawabnya sambil melambaikan tangan kepada temannya yang sudah menunggu di depan sebuah mobil hitam. “ Oya, silakan saja.” Jawabku singkat. “Oya, dijemput? Atau mau bareng kita?” “Nanti dijemput teman.” Rasanya ingin mengatakan ‘Bolehkah aku ikut?’ “Baiklah. Aku duluan ya,sudah ada yang harus dikerjakan.Hati-hati di jalan. Sukses buat tugas akhirnya!” Dia tersenyum kepadaku dan berjalan menuju temannya, senyum yang manis pikirku. Sekali lagi aku terdiam melihat dia berjalan menjauh, memandang punggung itu kembali dan mungkin terlalu asyik mengobrolkan hal lain aku bahkan tak mengucapkan terimakasih untuk waktu itu. Semoga aku bertemu kembali entah kapan itu, dan aku akan berjalan menuju jalanku untuk menyelesaikannya. Tak ada keraguan lagi kali ini.   

Senin, 08 April 2013

Tanam Padi, Proses, Petani, Tradisi, Nasi..


Nasi. Makanan pokok orang Indonesia, sebernya tak semua bagian Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Apalagi di Indonesia Timur kebanyakan bukan nasi sebagai makanan pokok. Tapi tak apalah, nasi menjadi makanan pokoku. Tapi proses untuk menjadi nasi prosesnya cukup lama. Dari proses menanam padi, pengolahan padi basah menjadi kering, pengolahan padi menjadi beras, dan pengolahan beras menjadi nasi. Nah ini dia proses awal.
Pertama, penanaman padi..
Padi yang mempunyai nama ilmiah Oriza Sativa merupakan tanaman yang bisa hidup di dataran rendah sampai dataran tinggi, di tanah yang sedikit berlumpur sampai tanah kering. Macam-macam jenis padi di Indonesia sangat banyak, tergantung daerah masing-masing, tapi yang sering di tanam di daerahku, terutama yang ditanam Bapak dari jenis IR 64. 
Musim tanam-masih ada batas
Proses tanam padi dimulai dari pembibitan yang dilakukan dengan merendam biji-biji padi terlebih dahulu selama dua hari, pada saat yang sama disiapkan lahan untuk pembibitan yang mengambil sebagian kecil petak sawah yang siap panen. Ketika padi dipanen setelah itu bisa langsung melakukan pembibitan, hal ini agar mempersingkat waktu. Proses pembibitan memakan waktu sekitar 1-2 minggu menjadi benih padi yang siap ditanam. Setelah panen, selanjutnya sawah dibajak, dan dihaluskan agar siap ditanami sawah, dibuat pematang sawah baru, dialiri air secukupnya, agar basah dan lebih gembur tanahnya.
Proses selanjutnya adalah tandur (tanam mundur). Ya karena saat menanam padi ditanam dengan cara mundur. Ibu-ibu yang biasa melakukan proses ini. Di daerahku masih ada kebiasaan yang masih dilakukan yaitu menyiapkan satu tumbu (tempat menyimpan makanan terbuat dari bambu)  yang berisi buah-buahan dan ayam yang diingkung (dibikin meliuk-liuk sehingga kepalanya tegak,kaki –kakinya dilipat) sebagai simbol agar padi yang ditanam mendapatkan hasil yang berlimpah dan menandakan sudah mulai musim tanam baru.

ijo royo royo

Setelah tandur, proses berikutnya adalah mengairi sawah, dan pemupukan. Saat musim kering, air harus didapatkan dengan menyedot dari sumber-sumber mata air dengan menggunakan pompa diesel. Hal ini akan memakan biaya yang tak sedikit. Pupuk yang digunakan di daerahku menggunakn campuran dari kompos dan pupuk pabrik, tapi kebanyakan menggunakan pupuk pabrik. Tak banyak lagi yang mengolah pupuk kompos di daerahku. Pupuk kompos didapat karena beternak sapi, nah dari kotoran sapi ini dibuat kompos. 
Selanjutnya adalah perawatan, dengan menyiangi tanaman pengganggu padi, dan membuat sedikit pemisah antara tanaman satu dengan yang lainnya seperti pada saat tandur, ada jeda antara tanaman yang satu dengan yang lainnya. Dan tinggal menunggu panen tiba, tapi harus dilakukan perawatan dan pengecekan untuk menghilangkan tanaman pengganggu dan juga kadar air juga harus diperhatikan. Jika sudah muncul bulir-bulir padi tak jarang juga ada serangga yang menghisap padi muda, seperti wereng dan juga belalang. Jika hal tersebut terjadi makan perlu disemprot dengan pembasmi hama, selain itu juga ada banyak serangga yang membuat daun padi menjadi kering dan berwarna kemerah-merahan. Antara menyiangi tanaman pengganggu dan penyemprotan biasanya dilakukan bergantian.
padi muda
Nah penanaman sudah, perawatan sudah, tinggal setelah 4 bulan musim panen tiba. Padi muda yang awalnya tegak lama-lama merunduk dan menguning. Sebelum dipanen di daerahku masih dilakukan adat istiadat “metik” sama seperti tandur menyiapkan makanan tapi tak hanya buah-buahan dan ayam saja tetapi juga nasi lengkap dengan lauknya, yang nantinya dibagikan ke sekitar atau orang-orang yang berada di sekitar sawah. Lauknya juga khas di daerahku, ada bothok, pelas, gudangan (sejenis urap), kacang-kacangan, ikan pethek dan masih banyak lagi makanan khas daerahku. “Metik” merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan yang memberikan banyak rejeki dengan panen yang berhasil, walaupun setiap panen ada kalanya mendapatkan hasil yang berlimpah dan kadang juga hanya sedikit, gagal panen karena hama ato cuaca. Tetapi rasa syukur itu tetap dipanjatkan kepada Gusti ingkang Maha Agung. 
Sawah yang siap panen biasanya sudah dibeli oleh pengulak, atau disimpan sendiri untuk kebutuhan sehari-hari, atau disimpan nantinya dijual dalam bentuk beras. Harga padihasil panen yang masih basah ditentukan berdasarkan biaya dari tanam sampe dengan banyaknya hasil panen. Harga padi ditingkat petani dan pengepul biasa berbeda sedikit. Para pengepul harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangkut padi dari sawah ketempat pengepul yang lebih besar dan nantinya akan dikeringkan dan digiling menjadi beras.
Hehehe. Itulah proses panjang dari bibit padi, proses tanam sampe dengan panen padi dan sedikit tradisi di daerahku untuk menyambut musim tanam dan musim panen. Proses panjang itu harus dilakukan petani kita. Mari dukung petani Indonesia, dukung petani padi dengan tidak mengecilkan pekerjaan mereka.  Padi yang dihasilkan masih basah. Proses selanjutnya adalah pengeringan padi. Tunggu post selanjutnya ya :D
Mari dukung petani Indonesia !! 

siap panen #1


siap panen #2

Kebakkramat, Karanganyar, JawaTengah, Indonesia

Minggu, 24 Februari 2013

Di atas awan,,Puncak Lawu Part 2


Alam, semesta. Tak pernah ada habisnya keindahan alam yang diciptakan Sang Kuasa. Tak pernah ada habisnya untuk bertasbih kehadirat-Nya. Kebesaran yang ia tunjukan kepada manusia melalui alam sangat menganggumkan.
Alhamdulillah. Akhirnya setelah badai kemaren di puncak pass Lawu. Liburan kali ini berkesempatan merasakan kembali menyapa Lawu. Pendakian. Ya bisa melakukan pendakian ke Gunung Lawu. Gunung yang hampir dibuka sepanjang tahun dan menjadi tunjuan pendakian banyak orang. Pendakian kedua yang aku lakukan bersama adekku. Ya klo bukan karena adekku aku gak akan punya keberanian dan kesempatan untuk mendaki gunung.
Mendaki ke Lawu merupakan keinginan besarku, bukan hanya untuk gaya-gayaan tapi aku ingin mengetahui lebih banyak tentang alam, tentang semesta-Nya. Liburan dengan mendaki ke Lawu pada awalnya akan dilakukan bersama teman-teman kuliah, dan pada akhirnya dilakukan bersama Palasmaga. Pecinta alam di SMA ku dulu, dan ekskul yang diikuti adekku sekarang. Tak apalah, yang penting rasa penasaranku bisa terjawab.
Sering aku bertanya kenapa banyak orang yang mau capek – capek mendaki gunung. Membawa tas-tas yang berat yang dulu aku tak tau apa isinya. Tapi walau baru dua kali aku mendaki gunung aku tau, disana saat mendaki bersama, keegoisan diri sendiri harus dihilangkan, kebersamaan, canda tawa, cerita dengan yang lainnya, indahnya perjalanan, berdempetan saat tidur dalam dinginnya suhu, berbagi makanan dan minuman dan masih banyak lagi :D
Perjalanan kami di mulai dari sekolah adekku, dengan motor kita menuju basecamp Lawu. Ya karena kami masih berada di Solo dan sekitarnya, tak terlalu jauh ditempuh dengan sepeda motor. Sekitar pukul setengah enam baru berangkat dari sekolah adekku, yang rencana awal pukul 16.00. Hahaha, ya sudahlah namanya anak muda pasti masih aja ngaret. Sekitar pukul 20.00 sudah sampai di Cemoro Sewu, rencana awal akan naik dari Cemoro Kandang, tapi pada akhirnya diputuskan lewat Cemoro Sewu karena masih banyak newbie termasuk aku :P
Mulai naik sekitar pukul 22.00, bersantai dulu di rumah makan, dan pemanasan sebentar. Kemudian naik setelah mengurusi administrasi dan berdoa bersama. Kami terdiri dari  16 orang, dan hanya ada 3 perempuan, termasuk aku. Pendakian dipimpin Ucup, sang leader . Langkah demi langkah. Sedikit demi sedikit. Yang tadinya dingin sudah tak terasa, sudah terasa panas. Istirahat sebentar dan berjalan kembali. Perjalanan yang cukup melelahkan. Tapi dalam hati slalu berkata” ringan ringan ringan” untuk menyemangati diri sendiri. Dan sambil memandangi langit malam yang terang habis hujan. Alhamdulillah cuaca mendukung,padahal lagi musim hujan.
Pendakian ke Lawu terdiri dari 5 POS. Dari base camp sampe POS 1 ada 2 pos banyangan, dari POS 1 ke POS 2 perjalanan cukup panjang, Salah seorang adek kelas mulai kelelahan.
“Break!” Seketika sang leader mencari tempat yang agak datar untuk berhenti.
“Knapa dek?”
“Sedikit mual mba, pusing.” ulil terlihat kesakitan
“Ada riwayat penyakit ga?”
“Ga ada.”
Wah, aku merasa beruntung mempersiapkan obat-obatan seperlunya untuk perjalanan kali ini. Standar obat-obatan selama perjalanan sih. Dan aku selalu memegang prinsip yang di ajarkan di KSR PMI “ utamakan keselaman diri sendiri (penolong)”. Jadilah setiap perjalanan jauh membawa obat-obatan yang dianggap penting. Perjalanan di lanjutkan kembali. Dengan perjalanan yang lebih lambat seperti biasanya kata anak-anak yang lain akhirnya sampai di POS 2. Dari pos ini pecah menjadi 2 kelompok, satu kelompok membangun tenta di POS 2 dan sisanya melanjutkan sampai ke POS 3.
“Udah kamu stay disini aja”
“Maaf ya, makasih juga teman, dan kakak-kakak.”
Sepuluh orang melanjutkan perjalanan, dan tinggal aku satu-satunya perempuan yang melanjutkan perjalanan sampai ke POS 3. Perjalanan ternyata lebih menanjak. Perlahan dan tetap saling menjaga menuju POS 3, jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, ada yang sudah memejamkan mata, ada yang sambil memandang langit luas. Akhirnya pukul 03.00 kami sampai POS 3. Rencana awal istirahat sebentar dan langsung naik ke puncak, tapi akhirnya diputuskan untuk membangun tenda dan beristirahat, karena kami mulai kelelahan ternyata. Selamat malam dunia, eh selamat pagi dunia. Waktunya untuk tidur di tengah suhu yang cukup dingin.
orange ~ pagi
Pagi mulai datang, walaupun tak mendapatkan sunrise, tapi pemandangan pagi saat bangun sungguh indah. Subhanallah. Benar-benar di atas awan ! Hamparan awan seperti kasur, yang siap untuk tempat tidur. Walaupun belum sampai puncak tapi sudah di atas awan. Memasak untuk sarapan, sarapan, dan perjalan dilanjutkan ke POS 4. Dari sepuluh orang, hanya delapan orang yang melanjutkan perjalanan ke puncak Hargo Dumilah.
Perlahan demi perlahan. “Perjalanan yang sebenarnya” begitu kata adekku. Memang dari POS 3 ke POS 4 perjalanan sangat menanjak, dada terasa sesak, belum bisa beradaptasi dengan udara dingin dan pernafasan. Di sini aku mulai menyadari pentingnya latihan fisik sebelum mendaki.
“Gimana mba? Kenapa? Break!” teriak adekku.
“Kayaknya mulai kram perutku. Perjalanan masih jauh ga?”
“Selamat pagi” sapa seorang bule yang baru turun. Wah ada bule juga ternyata pikirku.
“Lumayan, masih seperempat ini. Jalannya ntar semakin nanjak. Mau lanjut, ato turun? Mumpung masih belum jauh.”
Wah sayang pikirku tidak sampe puncak, tapi kok sakit juga ya? “Ya udah aku turun aja lah, kau lanjut  aja sampe puncak, nitip ini ya”
Dan berhentilah perjalananku, tak sampai puncak memang. Tapi ini sangat berharga. Entah apa rasanya di puncak, mungkin ada kesempatan di lain kali untuk sampai puncak sana, Hargo Dumilah. Perjalanan turun dimulai pukul 12.30 hanya dengan adekku, karena aku harus menjemput teman-teman dari Bandung. Dari sini kemudian berpamitan dengan yang lainnya. Pulang turun terlebih dahulu. Seperti sebelumnya saat berjalan bersama adekku selalu aku yang dikira lebih muda :D


dinginnya tenda


puncak hargo dumilah
pulang
Perjalanan yang sangat menyenangkan, adek-adek yang menyenangkan. Tak terduga sebelumnya. Makasih untuk kesempatan dalam perjalanan bersama adek-adek Palasmaga. Lain kali mungkin kita bisa berbagi ilmu di bidang yang lain, SAR darat, atau Vertical Rescue. Salam Lestari! Salam Kemanusiaan! Hehehehe. :D
tea.blutterfly@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.